Bali Rayakan Kuningan, Gelar Tradisi Mesuryak dengan Bagi-Bagi Uang

Oleh: Ni Putu Eka Wiratmini 09 Juni 2018 | 13:34 WIB
Warga Banjar Bongan Gede Tabanan berebut uang dalam tradisi Mesuryak untuk merayakan Hari Raya Kuningan, Sabtu (9/6)./Bisnis-Ni Putu Eka Wiratmini

Bisnis.com, DENPASAR -- Masyarakat Hindu di Bali merayakan Hari Raya Kuningan dengan berbagai cara, salah satunya menggelar tradisi mesuryak seperti yang ada di Desa Bongan Gede Tabanan.

Mesuryak merupakan tradisi turun temurun yang rutin diadakan warga Desa Bongan Gede Tabanan setiap Hari Raya Kuningan.

Dalam tradisi ini, masyarakat berebut uang yang dilempar salah seorang warga. Tradisi ini sendiri dimaksudkan untuk membekali leluhur sebelum kembali ke alamnya.

Kuningan merupakan salah satu hari raya besar di Bali untuk memuja roh leluhur dan dewa-dewi. Pemujaan biasa dilakukan sebelum pukul 12.00 WITA sebab diyakini leluhur dan dewa dewi akan kembali ke alamnya sebelum jam tersebut.

Kelian Adat Banjar Bongan Gede Tabanan I Nyoman Parwata mengatakan tidak ada pencatatan waktu yang jelas mengenai pertama kali gelaran Tradisi Mesuryak diadakan. Tradisi ini awalnya hanya merupakan simbol untuk membekali leluhur sebelum pergi alamnya dengan memberikan uang.

Pada mulanya, bekal yang diberikan adalah berupa uang kepeng. Uang kepeng tersebut dilempar ke warga dan hanya dilakukan sebaga simbol saja.

Namun, seiring waktu, uang yang dibagikan menjadi uang kertas mulai dari mata uang rupiah hingga dolar AS. Antusiasme masyarakat pun semakin tinggi dengan tradisi ini.

Bahkan, dari 135 kepala keluarga yang ada di banjar tersebut, hampir 90% di antaranya mengikuti Mesuryak dengan membagi-bagikan uang.

"Tradisi ini untuk menghantarkan beliau [leluhur] ke alam sana dengan memberikan bekal berupa uang kepeng, sesaji, hingga prasarana upakara lengkap," terangnya di sela-sela tradisi mesuryak,  Sabtu (9/6/2018).

Nyoman bercerita tradisi ini dimulai dengan persembahyangan yang dilakukan masing-masing warga.

Diawali dengan bersembahyang di Pura Keluarga atau disebut Pura Panti. Kemudian 3 pura yang diusung desa disebut Kahyangan Tiga yakni Pura Desa, Pura Puseh, dan Pura Dalem.

Setiap melakukan persembahyangan di pura-pura tersebut, warga memohon tirta atau air suci yang kemudian digunakan di Merajan atau Pura di rumah.

Setelah semua prosesi itu dilakukan, maka warga pun mulai melakukan tradisi Mesuryak. Masing-masing anggota dalam rumah yang cukup rejekinya, membagikan uang dengan melempar kemudian ditangkap warga lainnya dengan saling ramai dan berebut.

Menurutnya, semua uang yang dibagikan tersebut diberikan secara ikhlas atau disebut dengan dana punia. Satu warga bahkan bisa membagikan hingga Rp5 juta.

Jika ditotal, setiap tradisi ini dilakukan, jumlah uang yang dibagi bisa mencapai Rp50 juta.

"Dari dulu tradisi Mesuryak ini dilakukan tidak memberi pengaruh pada ekonomi atau tidak ada yang jatuh miskin," tambah Nyoman.

 

Editor: Annisa Margrit

Berita Terkini Lainnya

Berita Populer