SURPLUS LISTRIK Bali, Ini Pendapat NGO Soal Tak Perlu Pembangkit Baru

Oleh: Ni Putu Eka Wiratmini 24 Mei 2018 | 15:39 WIB
SURPLUS LISTRIK Bali, Ini Pendapat NGO Soal Tak Perlu Pembangkit Baru
Ilustrasi pembangkit./Antara

Bisnis.com, DENPASAR – Berlebihnya pasokan listrik Bali dinilai tak membutuhkan pembangunan pembangkit baru maupun transmisi dari luar pulau.

Adapun total daya yang tersedia di Pulau Dewata kini Bali sebesar 1.200 MW dan 70% di antaranya belum dimanfaatkan. Demikian kesimpulan lembaga non pemerintah/Non Government Organitation (NGO) menyikapi wacana pembangunan transmisi dan pembangkit baru di Bali.

National Director Centre For Energy Research Asia (CERA) Adhityani Putri mengatakan pembangunan PLTU Celukan Bawang tahap dua di sekitar lokasi existing dinilai tidak tepat lantaran tidak termasuk dalam Rancangan Usaha Penyedian Tenaga Listrik (RUPTL).

Adapun sesuai dengan RUPTL 2018-2027, rencana pengembangan kapasitas pembangkit listrik di Bali justru seluruhnya bersumber dari Energi Baru dan Terbarukan (EBT) yang sebesar 316 MW.

Sementara, transmisi listrik luar pulau yang dikenal dengan proyek Jawa Bali Crossing (JBC) juga dinilai tidak tepat. Sebab, proyeksi pertumbuhan permintaan listrik di Bali awalnya diperkirakan 6,83% justru hanya menyentuh angka pertumbuhan penjualan 2% pada 2017. Walaupun, pada 2016 pertumbuhan penjualan listrik di Bali telah menembus 10%.

“Karena market Bali ada limitnya, tidak semua lahan mau dibangun villa, sehingga akan menjadi masalah dalam skema pembuatan listrik,” katanya, Kamis (24/5/2018).

Menurutnya, proyeksi PLN yang menyatakan pertumbuhan permintaan listrik di Bali membutuhkan kenaiakan daya sebesar 100 MW setiap tahun tidak benar. Sebab, proyeksi permintaan tidak berdasarkan kondisi transmisi dan distribusi listrik yang tersedia.

Kata dia, menjadi suatu pertanyaan mengapa pertumbuhan permintaan listrik di Bali hanya sebesar 2% pada 2017. Pertumbuhan yang cukup kecil ini bisa saja karena konsumsi yang memang rendah saat itu atau karena transmisi listrik di Bali yang masih kacau. Sehingga dalam penyalurannya sering kali tersendat.

“Buat apa nambah [pembangkit] kalau yang disambung segitu-gitu aja, Bali masalahnya adalah pemasangan yang dipriortaskan di selatan,” katanya.

Menurutnya, PLN begitu berkepentingan dalam proyek JBC ini karena dalam 7 tahun ke depan makin banyak PLTU yang berperasi berdasarkan Independent Power Producer (IPP) Project. Dengan makin banyaknya PLTU baru yang beroperasi terutama di Jawa Timur, semakin banyak daya listriknya harus disalurkan. Maka dari sini lahirlah proyek-proyek transimisi ke timur seperti Bali dan NTB.

“Dan visinya PLN akan membangun crossing lagi ke NTB, makanya beroperaisnya Celukan Bawang beroperasi akan menjadi disaster bagi proyek JBC dalam 10 tahun ke depan,” katanya.

Climate and Energy Campaigner Greenpeace Indonesia Didit Haryo Wicaksono juga mengatakan hal serupa yakni Bali sudah surplus energi listrik. Pada Oktober 2016, daya tertinggi konsumsi lisrik di Bali sebesar 850 MW dengan saat ini ketersediannya mencapai 1.200 MW.

“Lalu untuk siapa listrik itu dibuat,” katanya.

Editor: Miftahul Ulum

Berita Terkini Lainnya