PERBANKAN DI BALI, Penghimpunan Dana Naik Signifikan

Oleh: Feri Kristianto 23 Mei 2018 | 16:07 WIB
PERBANKAN DI BALI, Penghimpunan Dana Naik Signifikan
Uang rupiah./Bloomberg-Brent Lewin

Bisnis.com, DENPASAR—Penempatan dana pihak ketiga atau DPK di BPR seluruh Bali pada periode triwulan pertama 2018 mengalami kenaikan hingga 15,12% menjadi Rp9,7 triliun dari periode sama tahun sebelumnya Rp8,4 triliun.

Pertumbuhan itu ditopang oleh meningkatnya dana murah atau tabungan sebesar 18,81% menjadi Rp2,5 triliun dari sebelumnya Rp2,1 triliun. Selain itu, didukung juga oleh kenaikan penempatan deposito yang tumbuh 13,87% menjadi Rp7,2 triliun.

Hanya saja, pertumbuhan DPK tersebut belum dibarengi dengan fungsi intermediasi. Berdasarkan data OJK Regional 8 Bali Nusra, hingga akhir Maret 2018, penyaluran kredit BPR tumbuh 5,85% menjadi Rp9,7 triliun dibandingkan periode sama tahun lalu Rp9,2 triliun.

Kondisi itu menyebabkan tingkat loan deposit ratio (LDR) BPR turun menjadi 71,65% dari periode sama tahun lalu 74,45%. Adapun rasio BOPO menjadi 78,61% dari sebelumnya 80,67%.

Ketua Perbarindo Bali I Ketut Wiratjana mengatakan pertumbuhan kredit masih lebih rendah karena pelaku kesusahan menyalurkan dana ke masyarakat. Hal itu disebabkan masih dirasakannya dampak erupsi Gunung Agung pada akhir tahun lalu yang membuat masyarakat belum pulih untuk menyerap dana.

“Sekarang ekonomi masih susah menurut kami, dampak Gunung Agung cukup terasa khususnya bagi industri BPR,” paparnya, Rabu (23/5/2018).

Meski fungsi intermediasi belum sejalan, Perbarindo Bali optimistis penyaluran kredit pada tahun ini akan kembali kencang. Dia optimistis pada tahun ini pelaku usaha BPR akan dapat menyalurkan kredit hingga tumbuh sebesar 12%.

Jenis kredit yang banyak dibiayai oleh BPR selama tiga bulan tahun ini untuk modal kerja senilai Rp4,7 triliun, disusul kredit investasi Rp1,4 triliun dan kredit konsusi Rp3,5 triliun. Dari ketiga segmen kredit, segmen investasi mengalami kenaikan tertinggi sebesar8,96%.

Adapun sektor yang paling banyak dibiayai adalah sektor bukan lapangan usaha Rp3,01 triliun, sektor perdagangan besar dan eceran Rp2,7 triliun dan properti Rp1,3 triliun. Berdasarkan lokasi yang banyak dibiayai, Kota Denpasar menyerap terbanyak Rp3,38 triliun, disusul Kabupaten Badung Rp2,7 triliun dan Buleleng Rp1,6 triliun.

 

Editor: Miftahul Ulum

Berita Terkini Lainnya