Diagnosis Keuangan Sehat

Oleh: Tom MC Ifle, Director & Head Coach PT Aubade Makmur 18 Mei 2018 | 14:52 WIB

Saya percaya, kehidupan yang mapan dan sejahtera tidak bisa diwujudkan hanya dengan bekerja keras. Kerja keras mungkin saja bisa mendatangkan banyak uang. Akan tetapi, pembentuk kesejahteraan adalah cara Anda mengelola pemasukan. Pengelolaan keuangan adalah kunci keberhasilan seseorang secara finansial.

Coba lihat orang yang sukses hari ini tidak otomatis dikatakan sukses karena memiliki gaji atau penghasilan tinggi, jika uang Anda tidak dikelola dengan baik.

Teman saya mengatakan, “uang banyak tapi boros bisa boncos!" Pengelolaan yang tepat guna bisa membuat hidup Anda sejahtera, sekarang dan nanti. Sebaliknya, pengelolaan yang tidak tepat guna bisa membuat hidup Anda terasa kekurangan dan tidak tenang sebesar apa pun penghasilan Anda.

Pengelolaan yang baik bisa membuat penghasilan kecil menjadi terasa lebih mencukupi. Bahkan, bisa saja berkembang menjadi lebih banyak.

Saat Anda merasa keuangan tidak leluasa, hanya ada dua kemungkinan yang terjadi, yakni penghasilan Anda memang tidak mencukupi alias kurang. Selain itu, ada yang salah dengan cara pengelolaan uang Anda.

Berikut ini contoh gejala kondisi keuangan yang kurang sehat:

Pertama, cash flow sudah habis sebelum tiba waktu pembayaran berikutnya. Misalnya, pembayaran konsumen jadwalnya setiap tanggal 30 per bulan tetapi uang sudah habis untuk bayar segala hal pada 20. Penyebabnya bisa beragam. Ada yang karena pendapatannya memang kurang. Ada juga karena tidak mengontrol pengeluaran pada saat uang masih ada di tangan.

Kedua, menunggak cicilan atau tagihan bulanan. Misalnya, cicilan rumah atau motor menunggak kendati 1 bulan, atau belum bayar tagihan listrik pada bulan lalu. Tunggakan ini bisa jadi karena tidak punya uangnya, atau uang yang seharusnya dibayarkan tagihan tersebut terpakai untuk keperluan yang lain.

Ketiga, bisnis yang mengandalkan utang, baik kepada kawan, saudara, atau pihak lainnya. Biasanya utang ini untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari yang kecil-kecil tapi penting, seperti bensin, pulsa, makan. Di samping itu, pengeluaran tidak terduga seperti kena tilang, kendaraan mogok, bayar gaji pegawai, dan beli inventory.

Keempat, ada kebutuhan pokok dan kewajiban yang tidak terpenuhi. Misalnya, kehabisan token listrik, tidak bisa bayar tagihan air, kehabisan stok beras, belum bayar sekolah anak, tidak bisa bayar pajak kendaraan.

Kelima, tidak punya tabungan, baik karena memang tidak ada uang untuk menabung maupun karena tidak mementingkan tabungan.

Kelima, tidak punya dana darurat, tidak punya asuransi kesehatan, dan dompet lebih sering kosong.

Jika Anda mengalami kesulitan keuangan karena penghasilan kecil dan tidak bisa mencukupi kebutuhan pokok, maka solusinya adalah menambah penghasilan. Bisa juga dengan mencari penghasilan tambahan selain dari penjualan yang ada. Jika Anda sudah mendapatkan nilai yang cukup bahkan lebih dari kebutuhan pokok, maka mulailah terapkan pengelolaan keuangan yang cerdas. Intinya adalah jangan sampai pengeluaran lebih besar dari pendapatan.

Penyebab Tidak Sehat

Kondisi keuangan yang tidak sehat bisa disebabkan oleh banyak hal. Penyebab paling umum adalah tidak mengontrol pengeluaran dan tidak memiliki rencana keuangan yang jelas. Berikut ini adalah contoh pengelolaan uang yang salah:

Pertama, tidak pernah menyisihkan uang untuk menabung dan menyimpan dana darurat. Menabung itu wajib kendati gaji kecil. Sisihkan pada awal gajian. Jangan menunggu sisa pada akhir bulan. Menabung tidak harus besar. sedikit tidak masalah, yang penting konsisten setiap bulan.

Kedua, berutang untuk keperluan konsumtif. Misalnya, membeli handphone baru, ganti televisi baru, ganti kendaraan baru, merenovasi rumah tempat tinggal, rekreasi, dan makan di restoran mewah. Jika memang tidak mendesak kebutuhannya, lebih baik menahan diri. Berutang untuk sesuatu yang konsumtif justru akan menambah beban. Berbeda dengan berutang untuk keperluan produktif, seperti untuk modal usaha, karena dari usaha tersebut akan ada penghasilan tambahan.

Ketiga, tdak berinvestasi, baik dalam bentuk penyertaan modal, wirausaha maupun pengembangan diri.

Keempat, memiliki investasi yang menghasilkan bunga berbunga.

Ciri Sehat

Kondisi keuangan yang sehat tidak dilihat dari berapa besar penghasilan Anda setiap bulannya. Kondisi keuangan Anda bisa saja tergolong sehat kendati penghasilan relatif kecil asalkan Anda bisa menyesuaikan pengeluaran dengan pemasukan.

Secara umum, ciri keuangan sehat, yakni penghasilan Anda dapat memenuhi semua kebutuhan hidup, terutama kebutuhan pokok, tidak punya utang kepada kawan, saudara, atau pihak lainnya. Di samping itu, tidak menunggak cicilan atau tagihan rutin bulanan, memiliki dana sosial dan dana rekreasi keluarga, dan dana sosial digunakan untuk bersosialisasi dan berbagi.

Selanjutnya, memiliki tabungan, hasil dari menyisihkan penghasilan bulanan. Besaran tabungan sangat relatif bagi setiap individu tetapi idealnya adalah minimal 10% dari gaji bulanan dan konsisten setiap bulan. Tabungan disimpan dalam bentuk uang tunai ataupun barang berharga yang tidak mengalami penurunan harga.

Memiliki dana darurat, di luar tabungan. Sumber dana darurat ini bisa dari mana saja, baik dari gaji, hasil investasi, ataupun hadiah. Idealnya, besaran dana darurat adalah enam kali kebutuhan bulanan. Lebih besar tentunya lebih baik. Dana ini khusus digunakan hanya untuk kondisi darurat. Misalnya, terjadi kecelakaan atau sakit, berhenti bekerja, terjadi bencana, dan sebagainya. Dana darurat harus disimpan dalam bentuk uang tunai atau barang yang mudah dicairkan seperti emas. Ini sebagai antisipasi dana diperlukan dengan segera.

Memiliki investasi dan asuransi sebagai persiapan menghadapi masa depan. Gaji tidak selalu bisa naik setiap tahun, sedangkan biaya kebutuhan sehari-hari terus mengalami kenaikan. Penghasilan sampingan bisa menjadi alternatif solusi menghadapi tantangan ini. Akan jauh lebih baik jika Anda memiliki asuransi masa tua serta asuransi pendidikan untuk anak-anak.

Melakukan pengembangan diri yang bisa meningkatkan produktivitas, seperti mengikuti seminar atau pelatihan.

Silakan ajak keluarga, karyawan dan pihak yang berkepentingan untuk memikirkan kondisi keuangan perusahaan setelah mengetahui akar masalahnya. Lakukan langkah tegas agar bisnis Anda bisa selamat dari kebangkrutan. Salam pencerahan!

 

Editor: Bambang Supriyanto

Berita Terkini Lainnya

Berita Populer