Mencintai adalah Sebuah Keputusan

Oleh: Pongki Pamungkas, Penulis Buku The Answer Is Love dan All You Need Is Love 18 Mei 2018 | 14:46 WIB
Pongki Pamungkas/Jibi

Konon pelajaran dasar pertama untuk menjadi manusia yang bermanfaat adalah konsisten menerapkan prinsip: memberi sebanyak mungkin dan menerima atau, apalagi meminta seminim mungkin.

Suatu contoh klasik yang layak jadi acuan kita adalah perilaku ibu terhadap anak-anaknya. “Dari segala pemberian atau hadiah yang ditawarkan kehidupan, kasih sayang ibu adalah hadiah terbesar,” kata para tetua.

Masih ingat dengan lagu klasik ini? “Kasih Ibu, kepada beta. Tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi, tak harap kembali. Bagai sang surya, menyinari dunia”. Demikian adanya. Seorang ibu adalah seorang pemberi sejati. Dia berikan segenap kehidupannya bagi kelangsungan hidup anak-anaknya.

Dia memberikan segalanya, tanpa pamrih apapun, tanpa mengharapkan balasan apapun. Semua semata-mata karena kasih sayangnya yang tiada tara. Cinta kasih sejati adalah memberi.

Sebagian besar manusia menghendaki dan senang akan adanya cinta kasih yang menyelimuti kehidupan mereka.

“Sekuntum bunga tak akan merekah indah tanpa sinar matahari, sebagaimana manusia tak akan mampu hidup tanpa cinta,” kata Max Muller, filsuf Jerman abad 19 yang tinggal di Inggris.

Sebagian besar manusia senantiasa mendambakan cinta dalam kehidupannya, sebagaimana manusia mengharapkan oksigen, udara bersih yang menyehatkan hidup dan kehudupan.

Namun, dalam realita kehidupan, terdapat pula orang seakan tak mengenal cinta kepada sesama. Kehidupan yang semestinya berlangsung dalam suasana nyaman, tenteram dan damai ini, mereka kacaukan dengan aura kebencian, kemarahan, iri hati, dendam, dan dengki. Mereka luapkan penyakit hati itu dengan segala rupa kekerasan terhadap orang lain.

Mulai dari sekadar menggunjing, fitnah, hingga mencaci-maki. Mencela, bahkan melakukan tindakan kekerasan, dalam skala kecil hingga skala besar. Menciptakan peperangan yang menebar kematian dan kehancuran.

“Dari syahwat manusia terdalam kadangkala tumbuh kebencian yang mematikan,” kata Socrates.

Dalam cakrawala nan luas terbentang, peperangan demi peperangan antar suku, antar negara, tiada kunjung usai. Pertikaian dan ‘perkelahian’ antar para politisi kita, yang terus merembet ke kalangan di bawahnya, pun terus berkepanjangan. Syahwat akan kenikmatan dan kesenangan duniawi membutakan mata hati manusia. Semua seakan menjadi gelap.

Padahal, kata Martin Luther King Jr., kegelapan tak dapat mengenyahkan kegelapan, hanya cahaya yang mampu melakukannya. Kebencian tak dapat mengenyahkan kebencian. Hanya cinta yang mampu melakukannya.

Dampak Kebencian

Sebaliknya, akibat buruk kebencian dan penyakit hati itu hanya akan membuahkan hal yang negatif. “Kebencian meninggalkan bekas-bekas yang buruk. Cinta meninggalkan bekas-bekas yang indah,” ungkap Mignon McLaughlin.

Kebencian akan menumbuhkan sakit hati dan dendam. Sakit hati serta dendam hanya akan menciptakan kekerasan dan kekejian yang tiada kira. Manusia yang seharusnya berjuluk sebagai mahluk beradab, tak dapat dipungkiri akhirnya menyandang predikat sebagai mahluk biadab.

Contoh yang paling aktual, betapa keji para teroris yang terpidana itu membunuh para polisi Brimob, dengan cara biadab: leher digorok dan terjadi pada beberapa korban, beberapa bagian badan yang disayat-sayat. Biadab!

Alangkah indahnya dunia ini lebih banyak diwarnai oleh cinta daripada rasa benci. Marilah kita semakin giat membudayakan cinta. Kita yakin, cinta adalah resep paling mujarab bagi kebahagiaan segenap umat.

Profesor Hawkins dari Amerika Serikat telah berhasil membuktikan secara ilmiah dan praktis. “Kebanyakan orang sakit diakibatkan tiadanya cinta kasih dalam dirinya. Mereka sakit karena hal-hal negatif yang mendominasi pikirannya. Suka mengeluh, bersedih, dendam kepada orang lain dan selalu menyalahkan orang lain.”

Marilah kita tumbuhkan cinta dalam diri kita sebagai topik yang mendominasi pikiran kita. Cinta dalam hal ini adalah cinta bukan sekedar sebagai reaksi. Ketika cinta adalah sebuah reaksi, maka kita hanya akan menunjukkan rasa cinta pada mereka yang kita anggap telah melakukan hal-hal baik untuk kita.

Sebaliknya, jika kita memandang bahwa cinta adalah sebuah keputusan, maka kita akan selalu mendahului untuk menunjukkan rasa cinta pada orang lain, tak melihat siapa, darimana dan apa yang mereka perbuat pada diri Anda. Tentu saja dengan rasa dan cara yang berbeda.

“Cinta adalah manakala kebahagiaan orang lain itu lebih penting daripada kebahagiaan diri sendiri,” kata H. Jackson Brown Jr.

“Bekerjalah, seakan-akan tak memerlukan uang, berdansalah seakan-akan tiada yang menyaksikan, cintailah sesama seakan-akan Anda tak pernah tersakiti,” kata Satchel Paige, seorang legenda ‘pitcher’ baseball Amerika Serikat.

Teristimewa bagi para pasangan hidup yang telah dan akan mengarungi bahtera pernikahan, tip ini pas sekali sebagai suatu resep sehat pernikahan. “Pernikahan yang sukses membutuhkan jatuh cinta berulang kali dan sesering mungkin, selalu terhadap orang sama,” kata Mignon McLughlin, seorang penulis sekaligus jurnalis.

Lebih istimewa lagi bagi para suami dan ayah, para kepala rumah tangga. Ini nasihat paling afdol dari Theodore Hesburgh, Presiden Universitas Notre Dame. “Hal terbaik yang layak dilakukan seorang ayah bagi anak-anaknya adalah mencintai ibu mereka.” .

Editor: Bambang Supriyanto

Berita Terkini Lainnya

Berita Populer