PTPN XI Kembangkan Tebu di Gerokgak Buleleng

Oleh: Newswire 24 April 2018 | 08:24 WIB
PTPN XI Kembangkan Tebu di Gerokgak Buleleng
Petani tebu./Antara

Bisnis.com, SINGARAJA—PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI mengembangkan tanaman tebu varietas unggul wilayah Kecamatan Gerokgak, Buleleng, Bali seluas 1.200 hektare melibatkan 443 petani setempat sebagai upaya mendukung program pemerintah mewujudkan swasembada gula.

"Penanaman perdana dilakukan petani di wilayah Desa Penyabangan, Kecamatan Gerokgak pada hari Rabu (25/4). Petani selanjutnya memelihara tanaman tebu selama 12 bulan untuk bisa dipanen. Semua hasil panen akan masuk ke pabrik gula di Jawa Timur, mengingat pemasaran gula saat ini regulasinya masih diatur pemerintah," kata General Manajer Pabrik Gula Asem Bagus, PTPN XI Ahmad Barnas, di lobi Kantor Bupati Buleleng, Selasa (24/4/2018).

Ia mengatakan, dipilihnya Kecamatan Gerokgak untuk lahan pengembangan tebu karena faktor cuaca dan kondisi geografis daerah tersebut sangat mendukung untuk pengembangan tebu. Selain itu di kawasan tersebut masih banyak terdapat lahan kosong yang belum dimanfaatkan secara maksimal.

PTPN XI sebagai operator ditunjuk membina secara teknis untuk pengembangan tebu di wilayah Kecamatan Gerokgak. PT PN XI tahun 2018 menargetkan bisa membudidayakan tebu seluas 1.200 hektare yang tersebar di Desa Pejajarakan, Goris, Pemuteran, Penyabangan, Musi, Sanggalangit, Tukad Sumaga, Sumberkima dan Sumberkelampok.

Ahmad Barnas menjelaskan, pengembangan tanaman tebu tersebut menerapkan sistem yakni pihak PTPN XI memberikan bantuan pinjaman bibit jangka panjang dan biaya pengolahan lahan serta bantuan pupuk kepada petani.

Selain itu petani penggarap diberikan dana untuk melakukan pembersihan lahan sebelum siap ditanami tebu sebesar Rp4 juta per hektaret serta pupuk 350 kilogram atau setara nilai Rp5 juta untuk setiap hektare.

Ahmad Barnas menjelaskan, jika merujuk pada petani tebu di Jawa, petani akan mendapatkan bagi hasil saat tebunya digiling. Secara umum 66 persen milik petani, 34 persen untuk pabrik. Sedangkan untuk tetes tiga persen ke petani dan pabrik dapat jatah 1,5 persen.

"Dari gula milik petani itu 90 persen dijual dalam bentuk kelompok. Sedangkan 10 persen mereka mendaftarkan gula dalam bentuk natura," katanya.

Bahkan, jika lahan tebu sudah mencapai 10 ribu hektare, Ahmad menyebutkan bukan tidak mungkin di Buleleng akan dibangun pabrik gula.

"Pada saat luas lahan mencapai 10 ribu hektare, di Buleleng memungkinkan akan dibangun pabrik gula, dengan kapasitas 6 ribu tons of cane per day (TCD). Apalagi antara Buleleng dengan Pabrik Gula Asem Bagus kan tidak terlalu jauh," ujarnya.

Sumber : Antara

Editor: Miftahul Ulum

Berita Terkini Lainnya