Surplus Perdagangan Bali Turun 13,03%

Oleh: Feri Kristianto 23 April 2018 | 14:37 WIB
Surplus Perdagangan Bali Turun 13,03%
Ilustrasi: Petani memanen padi dalam panen perdana, Selasa (27/10/2015) di lahan seluas 10,07 Ha di Subak Pulagan, Tampaksiring, Kabupaten Gianyar./Bisnis.com-Feri Kristianto

Bisnis.com, DENPASAR—Neraca perdagangan Bali pada Februari 2018 mengalami penurunan jika dibandingkan dengan Ferbruari 2017. Penurunan surplus dipicu masuknya beras impor dari Vietnam ke daerah ini.

Badan pusat statistik (BPS) Bali mencatat, surplus perdagangan Bali pada Februari senilai US$35,2 juta, turun sebesar 13,08% jika dibandingkan dengan Januari senilai US$40,5 juta. Hasil itu didorong nilai impor ke Pulau Bali pada Februari mencapai US$10,02 juta. Angka tersebut naik hingga 87,15% jika dibandingkan impor Februari 2017, senilai US$5,45 juta.

Dari catatan BPS Bali diketahui bahwa komposisi negara importir ke Bali adalah Hong Kong 25,95%, Vietnam 22,66%, China 8,45%, Amerika Serikat 8,17%, dan Jerman 6,92%.

Dari sepuluh besar negara utama asal impor, masuknya barang dari Vietnam ke destinasi wisata ini mengalami lonjakan sangat tinggi mencapai belasan ribu persen jika dibandingkan dengan bulan Januari 2018 (mtm). Vietman bahkan tercatat sebagai negara asal impor yang mendominasi peningkatan impor di bulan Februari 2018.

“Sebanyak 99,28% dari total impor Vietnam merupakan komoditas gandum-ganduman berupa beras dengan nilai sebesar US$2,25 juta,” kata Kepala BPS Bali Adi Nugroho, Senin (23/4/2018).

Kondisi tersebut berbeda jika dibandingkan dengan Februari 2017, tidak tercatat adanya impor komoditas gandum-ganduman dan tembakau. Masuknya komoditas gandum-ganduman (beras) pada Februari lalu, terkait dengan kebijakan impor beras dari Vietnam yang dilakukan pemerintah untuk menanggulangi kekurangan stok beras.

Jika dilihat dari lima negara utama asal impor di bulan Februari 2018, dibandingkan dengan bulan sebelumnya (mtm), empat negara mengalami peningkatan impor yaitu Hongkong, Vietnam, Tiongkok, dan Jerman. Apabila dibandingkan dengan bulan yang sama tahun sebelumnya (yoy), impor dari negara Hongkong, Vietnam, dan Jerman yang mengalami peningkatan.

Sementara itu, jika dihitung berdasarkan surplus, capaian pada Februari lalu masih lebih baik jika dibandingkan periode sama pada 2016 yang tercatat hanya senilai US$31,6 juta.

Editor: Saeno

Berita Terkini Lainnya