Pemda Bali Disarankan Dorong Hotel Gunakan EBT

Oleh: Feri Kristianto 23 April 2018 | 14:21 WIB
Pemda Bali Disarankan Dorong Hotel Gunakan EBT
Ilustrasi: Pembangkit listrik tenaga surya (PLTS)/Antara

Bisnis.com, DENPASAR—Pemda Bali disarankan membuat aturan yang dapat mendorong pelaku pariwisata seperti hotel membangun sumber tenaga listrik dari energi baru terbarukan agar program Bali Clean and Green dapat terwujud.

Pengamat kelistrikan Universitas Udayana Ida Ayu Dwi Giriantari menilai tanpa adanya aturan yang mendorong industri pariwisata terlibat, program bali hijau hanya akan sebatas wacana yang susah dipraktikkan. Menurutnya, industri pariwisata harus didorong karena investasi energi baru terbarukan (EBT) sangat mahal dan jika dibebankan ke masyarakat justru tidak terbeli.

Salah satu contohnya, harga baterai sumber pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) bisa 10 kali lipat harga panel surya. Jika masyarakat kelas bawah didorong mengggunakan energi dari PLTS, justru akan memberatkan mereka karena harganya tidak terjangkau.

“Kan sering didengung-dengungkan green tourism padahal praktik belum ada, makanya agak malu. Saya ingat kalau satu hotel lakukan konferensi energi terbarukan. Saya malu sekali karena hotel yang digunakan itu justru belum memanfaatkan fasilitas ramah lingkungan,” paparnya, Senin (23/4/2018).

Profesor di Fakultas Teknik Unud ini menegaskan sudah mendorong chief enggineering untuk mengadopsi energi baru terbarukan sebagai salah satu sumber energi di hotel. Pemanfaatan energi baru terbarukan akan dapat membantu hotel meningkatkan nilai jual. Giriantari mengatakan sudah saatnya hotel di Bali mendeklarasikan ramah karbon untuk jangka panjang industri pariwisata di daerah ini.

Diakuinya, tidak mudah mendorong industri pariwisata mengadopsi sumber energi terbarukan. Masalah utama saat ini adalah belum adanya organisasai yang memberikan sertifikasi green hotel dan kondisi itu membuat pelaku masih enggan menerapkan energi ramah lingkungan sebagai sumber energi alternatif.

Ditegaskannya penggunaan energi terbarukan hanya sebagai salah satu alternatif. Tidak bisa jika seluruh pelaku pariwisata hanya memanfaatkan pembangkit seperti PLTS karena masalah kestabilan pasokan energi. Indonesia berbeda dengan Eropa yang sudah mapan pasokan listriknya sehingga mendorong energi terbarukan.

“Energi terbarukan itu tidak bisa [dijadikan] supply utama, harus ada PLN. Itu tambahan bisa, tapi kalau mengandalkan sepenuhnya akan susah dan high cost. Harus punya baterai yang harganya bisa 10 kali lipat dari panel,” tuturnya.

Editor: Saeno

Berita Terkini Lainnya