Bali Krisis Air 2025, Investor Tertarik Tanam Modal

Oleh: Ni Putu Wirat Eka 19 April 2018 | 12:21 WIB
Bali Krisis Air 2025, Investor Tertarik Tanam Modal
Krisis Air. /Bisnis.com

Bisnis.com, DENPASAR – Sejumlah investor mulai tertarik menanamkan modal pada proyek Sistem Penyedian Air Minum (SPAM) di Bali lantaran predksi pada 2025 Pulau Dewata akan mengalami krisis air bersih.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu Ida Bagus Made Parwata mengatakan ada tiga investor yang berminat menanamkan modal pada proyek SPAM di Bali karena melihat Bali sangat membutuhkan air. Terutama untuk memenuhi kebutuhan pariwisata di Bali Selatan yang merupakan kampung turis.

Kata dia, nilai investasi ini bahkan mencapai Rp5 triliun. Adapun satu investor merupakan penanam modal asing dengan nilai uang yang berani ditanamkan mencapai Rp5 triliun, dan dua sisanya merupakan investor dalam negeri dengan nilai masing-masing yakni Rp3 triliun dan Rp3,6 triliun.

“Kalau yang dalam negeri mintanya melalui skema kerja sama pemerintah dengan badan usaha, nah kalau yang luar negeri itu investasi murni dan merupakan konsorsium pengusaha dari China, Australia, dan Malaysia,” katanya kepada Bisnis, Kamis (19/4/2018).

Kata dia, sebelumnya ada 4 investor yang menyatakan ketertarikannya pada proyek SPAM di Bali. Hanya saja, karena keterbatasan pendaaan, satu investor mengundurkan diri.

Sementara, untuk SPAM, ketiganya merencanakan untuk memanfaatkan aliran air Sungai Telaga Waja dan Tukad Unda.

“Sumber air di dunia sungai itu yang dilihat besar untuk dikembangkan,” sebutnya.

Menurutnya, penanaman modal pada proyek SPAM tidak akan bermasalah pada harga jual air PDAM. Sebab, masalah harga dikontrol PDAM sehingga investor pun tidak berani memasang harga tinggi.

Apalagi, sesuai dengan Perpres No. 44 tahun 2016 tentang daftar bidang usaha yang tertutup dan terbuka dengan persyaratan bidang penanaman modal, investasi di bidang SPAM masih terbuka untuk investor luar negeri maupun dalam negeri. Bahkan, untuk investor asing diberikan kewenangan untuk memiliki saham hingga 95%.

“Sekarang investor tersebut sedang penjajakan ke PDAM, kemungkinan kalau harga tidak cocok sehinga ada potensi rugi kemungkinan tidak jadi mereka berinvestasi,” katanya.

Editor: Mia Chitra Dinisari

Berita Terkini Lainnya