2018, Penjualan Toko Ritel di Bali Bisa Tumbuh 11%

Oleh: Ni Putu Eka Wiratmini 10 April 2018 | 14:01 WIB
Ilustrasi/JIBI-Alby Albahi

Bisnis.com, DENPASAR – Pertumbuhan kunjungan masyarakat untuk belanja pada toko ritel di Bali selama 2017 telah mencapai 7% dan diprediksi akan mencapai 11% pada 2018.

Sekretaris DPD Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Bali I Made Abdi Negara optimistis pertumbuhan itu akan tercapai lantaran banyak toko-toko ritel di Bali yang hadir dengan menawarkan harga yang cukup diterima masyarakat.

Belum lagi, salah satu toko ritel besar di Bali yakni Hardys mengalami pailit sehinga sebanyak 9 tokonya terpaksa ditutup. Kondisi ini menurutnya telah memberikan keuntungan bagi toko-toko ritel lainnya untuk mengalami pertumbuhan.

Selain itu, banyak warung tradisonal juga telah bertransformasi menjadi toko ritel yang lebih modern. Produk-produk yang dijual pun mengikuti kebutuhan pasar. Sehingga, hal ini semakin memudahkan masyarakat untuk melakukan konsumsi.

“Saat ini telah terjadi peningkatan sale, bahkan ada satu toko ritel yang pertumbuhannya sampai 21%, nah penutupan Hardys menyebabkan banyak yang datang ke toko ritel lain dan harga selektif juga berubah,” katanya, Senin (9/4/2018).

Kata dia, untuk pertumbuhan jumlah toko ritel belum akan terjadi selama 2018 ini.

Adapun berdasarkan data Aprindo, di Bali saat ini telah ada sebanyak 145 brand toko ritel modern. Satu brand toko ritel bisa memiliki lebih dari 10 toko seperti misalnya Coco Group yang telah memiliki 130 toko.

Sementara mengenai jumlah pasti toko ritel yang ada di Bali tidak dapat dipastikan pasti. Sebab, saat ini banyak warung tradisional yang telah bertransformasi menjadi toko ritel yang lebih modern.

“Kalau dulu kebanyakan pemilik warung mengeluh dengan kehadiran toko ritel tetapi sekarang wawansannya sudah terbuka dan mereka siap menghadapi kompetisi dengan ritel lebih modern,” katanya.

Editor: Rustam Agus

Berita Terkini Lainnya